<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Yandics Bussines Review</title>
	<atom:link href="http://www.yandics.biz/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.yandics.biz</link>
	<description>Meniti Sebuah Impian Besar</description>
	<lastBuildDate>Sun, 22 Apr 2012 17:25:43 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>PILIH TABUNGAN ATAU DEPOSITO?</title>
		<link>http://www.yandics.biz/2011/12/pilih-tabungan-atau-deposito/#utm_source=feed&#038;utm_medium=feed&#038;utm_campaign=feed?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=pilih-tabungan-atau-deposito</link>
		<comments>http://www.yandics.biz/2011/12/pilih-tabungan-atau-deposito/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Dec 2011 04:49:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yandics</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://www.yandics.biz/?p=161</guid>
		<description><![CDATA[Dikutip dari Tabloid NOVA No. 683/XIV Pak Safir yang terhormat, Saya ingin menanyakan apa saja keuntungan dan kelemahan dari Tabungan Bank (seperti Tahapan BCA atau Taplus BNI) dan Deposito? Lalu mana yang lebih baik untuk menyimpan uang kita: di deposito atau rekening tabungan biasa? Apakah besar kecilnya jumlah uang yang akan disimpan juga perlu dipertimbangkan dalam menentukan pilihan? Sebelumnya saya ucapkan terima kasih. MF &#8211; Bekasi Jawab: Ibu MF di Bekasi, Baik tabungan maupun deposito merupakan produk investasi yang mempunyai keuntungan dan kelemahan masing-masing. Dengan mengetahuinya, tentu Anda dapat memanfaatkannya sesuai kebutuhan. Berikut ini penjelasan dari tiap jenis produk. Tabungan memiliki kelebihan sebagai berikut: Tidak memerlukan dana yang besar untuk membuka rekening awal di bank, karena rata-rata setoran awalnya kecil. Bahkan ada bank yang mensyaratkan setoran awal hanya Rp 25.000. Tabungan juga memberi bunga yang memungkinkan dana Anda dapat terus berkembang. Tabungan bersifat cair/likuid. Kapan saja Anda dapat mengambil simpanan Anda. Saat ini produk tabungan di bank juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas, seperti Kartu ATM, Kartu Debet, bahkan asuransi. Produk tabungan biasanya dilengkapi dengan buku tabungan sehingga memudahkan Anda mengetahui jumlah saldo terakhir. Jika tidak ada buku tabungan, bank biasanya akan mengirimkan laporan transaksi bulanan. Adapun kelemahan tabungan adalah: Bunga tabungan biasanya kecil, sehingga dana Anda biasanya lambat perkembangannya. Dikenai biaya administrasi tiap bulannya. Untuk deposito, keuntungannya adalah: Bunga lebih besar daripada bunga tabungan (pada bank yang sama), sehingga dana Anda bisa berkembang lebih cepat. Tidak dikenai biaya administrasi bulanan. Namun ada beberapa bank yang saat ini dapat membayarkan bunga deposito di muka. Dapat dijadikan jaminan kredit. Sedangkan kelemahan deposito adalah: Tidak bisa diambil sewaktu-waktu, tetapi hanya bisa diambil pada waktu yang sudah ditentukan saja. Ini disebut dengan istilah masa jatuh tempo. Jika Anda mengambilnya sebelum jatuh tempo, biasanya akan dikenai biaya administrasi dan biaya penalti. Dikenai pajak deposito sebesar 15% atau 20%. Nah, kalau sekarang Anda bertanya mana yang lebih baik antara menyimpan uang di tabungan atau di deposito, ya, jawabannya tergantung dari tujuan Anda. Kalau pada saat ini Anda punya uang yang memang menganggur, maka tidak ada salahnya Anda masukkan ke deposito. Ini karena suku bunga pada deposito lebih besar dibanding suku bunga pada tabungan. Tapi kalau uang Anda tersebut memang digunakan untuk keperluan sehari-hari, maka Anda harus memasukkannya ke tabungan. Ini karena sifat rekening tabungan yang tidak mengikat. Artinya, Anda bisa mengambil uang Anda kapan pun Anda inginkan. Atau, bisa juga kalau misalnya Anda punya uang Rp 10 juta, maka Anda bisa membaginya menjadi dua. Mungkin sebesar Rp 3 juta bisa Anda taruh di dalam tabungan, sedangkan yang Rp 7 juta sisanya Anda taruh di dalam deposito. Uang Rp 3 juta itu bisa digunakan untuk keperluan bulanan Anda, sedangkan uang Rp 7 juta adalah agar Anda bisa<a href="http://www.yandics.biz/2011/12/pilih-tabungan-atau-deposito/"> <br /><br /> (Read More...)</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dikutip dari Tabloid NOVA No. 683/XIV</p>
<p>Pak Safir yang terhormat,<br />
Saya ingin menanyakan apa saja keuntungan dan kelemahan dari Tabungan<br />
Bank (seperti Tahapan BCA atau Taplus BNI) dan Deposito? Lalu mana yang<br />
lebih baik untuk menyimpan uang kita: di deposito atau rekening tabungan<br />
biasa? Apakah besar kecilnya jumlah uang yang akan disimpan juga perlu<br />
dipertimbangkan dalam menentukan pilihan?</p>
<p>Sebelumnya saya ucapkan terima<br />
kasih.<br />
MF &#8211; Bekasi</p>
<p>Jawab:<br />
Ibu MF di Bekasi,<br />
Baik tabungan maupun deposito merupakan produk investasi yang mempunyai<br />
keuntungan dan kelemahan masing-masing. Dengan mengetahuinya, tentu<br />
Anda dapat memanfaatkannya sesuai kebutuhan. Berikut ini penjelasan dari<br />
tiap jenis produk.<br />
Tabungan memiliki kelebihan sebagai berikut:</p>
<ul><span id="more-161"></span></p>
<li>Tidak memerlukan dana yang besar untuk membuka rekening awal di bank, karena rata-rata setoran awalnya kecil. Bahkan ada bank yang mensyaratkan setoran awal hanya Rp 25.000.</li>
<li>Tabungan juga memberi bunga yang memungkinkan dana Anda dapat terus berkembang.</li>
<li>Tabungan bersifat cair/likuid. Kapan saja Anda dapat mengambil simpanan Anda.</li>
<li>Saat ini produk tabungan di bank juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas, seperti Kartu ATM, Kartu Debet, bahkan asuransi.</li>
<li>Produk tabungan biasanya dilengkapi dengan buku tabungan sehingga memudahkan Anda mengetahui jumlah saldo terakhir. Jika tidak ada buku tabungan, bank biasanya akan mengirimkan laporan transaksi bulanan.</li>
</ul>
<p>Adapun kelemahan tabungan adalah:</p>
<ul>
<li>Bunga tabungan biasanya kecil, sehingga dana Anda biasanya lambat perkembangannya.</li>
<li>Dikenai biaya administrasi tiap bulannya.</li>
</ul>
<p>Untuk deposito, keuntungannya adalah:</p>
<ul>
<li>Bunga lebih besar daripada bunga tabungan (pada bank yang sama), sehingga dana Anda bisa berkembang lebih cepat.</li>
<li>Tidak dikenai biaya administrasi bulanan. Namun ada beberapa bank yang saat ini dapat membayarkan bunga deposito di muka.</li>
<li>Dapat dijadikan jaminan kredit.</li>
</ul>
<p>Sedangkan kelemahan deposito adalah:</p>
<ul>
<li>Tidak bisa diambil sewaktu-waktu, tetapi hanya bisa diambil pada waktu yang sudah ditentukan saja. Ini disebut dengan istilah masa jatuh tempo. Jika Anda mengambilnya sebelum jatuh tempo, biasanya akan dikenai biaya administrasi dan biaya penalti.</li>
<li>Dikenai pajak deposito sebesar 15% atau 20%.</li>
</ul>
<p>Nah, kalau sekarang Anda bertanya mana yang lebih baik antara menyimpan uang di tabungan atau di deposito, ya, jawabannya tergantung dari tujuan Anda. Kalau pada saat ini Anda punya uang yang memang menganggur, maka tidak ada salahnya Anda masukkan ke deposito. Ini karena suku bunga pada deposito lebih besar dibanding suku bunga pada tabungan.<br />
Tapi kalau uang Anda tersebut memang digunakan untuk keperluan sehari-hari,<br />
maka Anda harus memasukkannya ke tabungan. Ini karena sifat rekening tabungan yang tidak mengikat. Artinya, Anda bisa mengambil uang Anda kapan<br />
pun Anda inginkan.<br />
Atau, bisa juga kalau misalnya Anda punya uang Rp 10 juta, maka Anda bisa<br />
membaginya menjadi dua. Mungkin sebesar Rp 3 juta bisa Anda taruh di dalam<br />
tabungan, sedangkan yang Rp 7 juta sisanya Anda taruh di dalam deposito.<br />
Uang Rp 3 juta itu bisa digunakan untuk keperluan bulanan Anda, sedangkan<br />
uang Rp 7 juta adalah agar Anda bisa mengembangkan dana Anda. Nanti kalau<br />
uang Rp 3 juta itu sudah habis, maka Anda bisa mengambil sebagian uang<br />
deposito yang Rp 7 juta untuk keperluan bulanan Anda di periode yang<br />
berikutnya.<br />
Kalau Anda bertanya apakah jumlah uang yang akan disimpan perlu dipertimbangkan dalam menentukan pilihan. Tentu saja, ya. Sebab kalau dana<br />
Anda tidak sampai Rp 500 ribu, berarti Anda tidak membuka deposito dong. Ini karena syarat dana minimal untuk bisa membuka deposito biasanya adalah Rp 500.000 ke atas. Ya, hanya sebatas itu saja pertimbangannya.</p>
<p>Selamat menabung.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yandics.biz/2011/12/pilih-tabungan-atau-deposito/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MENGGERAKKAN UANG UNTUK MENCARI UANG</title>
		<link>http://www.yandics.biz/2011/12/menggerakkan-uang-untuk-mencari/#utm_source=feed&#038;utm_medium=feed&#038;utm_campaign=feed?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=menggerakkan-uang-untuk-mencari</link>
		<comments>http://www.yandics.biz/2011/12/menggerakkan-uang-untuk-mencari/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Dec 2011 07:27:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yandics</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://www.yandics.biz/?p=159</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Safir Senduk Dikutip dari Tabloid NOVA No. 884/XVI Banyak diantara Anda, dari dulu hingga sekarang, selalu beranggapan bahwa uang hanya bisa dicari dengan bekerja. Sebagai contoh, Anda atau suami Anda kebetulan lagi bokek sekali. Lalu, Anda berdua berunding, dan akhirnya memutuskan bahwa Anda atau suami harus kerja untuk mendapatkan penghasilan. Itu memang tidak salah. Bagaimana pun, untuk mendapat uang Anda harus bekerja. Tapi yang salah adalah bahwa kalau Anda berpikir bahwa hanya Anda yang bisa bekerja. Padahal, ada pihak lain yang bisa Anda pekerjakan untuk cari uang dalam keluarga. Siapa dia? Jika sekarang hanya Anda bekerja, maka Anda bisa minta Suami untuk bekerja juga. Jika Anda sudah punya anak yang dewasa, maka tidak ada salahnya memintanya untuk ikut membantu Anda bekerja. Selain anggota keluarga, ada sumber penghasilan lain yang Anda bisa minta tolong untuk mencari uang. Siapa dia? Uang Anda sendiri. Betul, uang yang Anda punya sekarang, bisa Anda pekerjakan untuk ikut mencari uang sendiri. Lho, maksudnya gimana? Iya, katakan saja pada saat ini suami Anda bekerja. Dari pekerjaan tersebut, suami Anda bisa mendapatkan pemasukan yang rutin sekitar Rp 1,5 juta sebulan. Lalu, katakan saja Anda juga bekerja, dan bisa mendapatkan penghasilan sebesar Rp 1 juta per bulan. Jadi, total penghasilan Anda berdua adalah Rp 2,5 juta per bulan. Dalam perjalanannya, Anda berdua bisa memiliki tabungan yang cukup lumayan. Besarnya &#8211; katakan saja &#8211; sebesar Rp 20 juta. Uang itu ditaruh di tabungan. Jarang sih dipakai, karena toh untuk pengeluaran bulanan Anda berdua selalu mengambilnya dari penghasilan rutin. Sekarang pertanyaannya, kalau Anda masih ingat, berapa pemasukan rutin yang didapat untuk keluarga Anda? Jawabannya jelas: Rp 2,5 juta per bulan. Pertanyaan berikut, siapa yang bekerja untuk bisa mendapatkan Rp 2,5 juta per bulan tersebut? Jawabannya jelas: Anda dan suami Anda. Bagaimana kabarnya Rp 20 juta yang Anda punya? Nganggur. Lho, kok nganggur? Ya jelas nganggur, wong cuma ditaruh di tabungan. Bunganya toh nggak seberapa. Kalau Anda kreatif, Anda bisa memiliki penghasilan tambahan dengan memproduktifkan sebagian dari Rp 20 juta yang Anda punya tadi. Sebagai contoh, Anda bisa memakai Rp 10 juta saja dari uang tersebut untuk Anda investasikan dan mendapatkan penghasilan tambahan yang baru, sama ibaratnya seperti kalau Anda punya anggota keluarga yang ikut bekerja menyumbang penghasilan kepada keluarga. Masalahnya sekarang, bagaimana menginvestasikan uang tersebut supaya ia bisa menghasilkan pemasukan untuk keluarga Anda? Hanya ada dua jawabannya: • Menginvestasikannya ke Usaha • Menginvestasikannya ke Produk Kalau Anda menginvestasikannya ke Usaha, Anda mungkin bisa mendapatkan penghasilan yang lumayan dari situ. Untuk awalnya, sambil tetap Anda melakukan pekerjaan Anda yang utama, Anda bisa menjalankan usaha tersebut dengan mengajak &#8211; katakan &#8211; anggota keluarga Anda. Lama kelamaan, setelah beberapa bulan misalnya, Anda bisa menyerahkan sepenuhnya pengelolaan usaha tersebut kepada anggota keluarga Anda, sementara<a href="http://www.yandics.biz/2011/12/menggerakkan-uang-untuk-mencari/"> <br /><br /> (Read More...)</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Safir Senduk<br />
Dikutip dari Tabloid NOVA No. 884/XVI</p>
<p>Banyak diantara Anda, dari dulu hingga sekarang, selalu beranggapan bahwa<br />
uang hanya bisa dicari dengan bekerja. Sebagai contoh, Anda atau<span id="more-159"></span> suami<br />
Anda kebetulan lagi bokek sekali. Lalu, Anda berdua berunding, dan akhirnya<br />
memutuskan bahwa Anda atau suami harus kerja untuk mendapatkan penghasilan.<br />
Itu memang tidak salah. Bagaimana pun, untuk mendapat uang Anda harus<br />
bekerja. Tapi yang salah adalah bahwa kalau Anda berpikir bahwa hanya<br />
Anda yang bisa bekerja. Padahal, ada pihak lain yang bisa Anda pekerjakan<br />
untuk cari uang dalam keluarga. Siapa dia?<br />
Jika sekarang hanya Anda bekerja, maka Anda bisa minta Suami untuk<br />
bekerja juga. Jika Anda sudah punya anak yang dewasa, maka tidak ada<br />
salahnya memintanya untuk ikut membantu Anda bekerja.<br />
Selain anggota keluarga, ada sumber penghasilan lain yang Anda bisa minta<br />
tolong untuk mencari uang. Siapa dia? Uang Anda sendiri. Betul, uang yang<br />
Anda punya sekarang, bisa Anda pekerjakan untuk ikut mencari uang sendiri.<br />
Lho, maksudnya gimana?<br />
Iya, katakan saja pada saat ini suami Anda bekerja. Dari pekerjaan tersebut,<br />
suami Anda bisa mendapatkan pemasukan yang rutin sekitar Rp 1,5 juta<br />
sebulan. Lalu, katakan saja Anda juga bekerja, dan bisa mendapatkan<br />
penghasilan sebesar Rp 1 juta per bulan. Jadi, total penghasilan Anda berdua<br />
adalah Rp 2,5 juta per bulan.<br />
Dalam perjalanannya, Anda berdua bisa memiliki tabungan yang cukup<br />
lumayan. Besarnya &#8211; katakan saja &#8211; sebesar Rp 20 juta. Uang itu ditaruh di<br />
tabungan. Jarang sih dipakai, karena toh untuk pengeluaran bulanan Anda<br />
berdua selalu mengambilnya dari penghasilan rutin.<br />
Sekarang pertanyaannya, kalau Anda masih ingat, berapa pemasukan rutin<br />
yang didapat untuk keluarga Anda? Jawabannya jelas: Rp 2,5 juta per bulan.<br />
Pertanyaan berikut, siapa yang bekerja untuk bisa mendapatkan Rp 2,5 juta<br />
per bulan tersebut? Jawabannya jelas: Anda dan suami Anda. Bagaimana<br />
kabarnya Rp 20 juta yang Anda punya? Nganggur. Lho, kok nganggur? Ya<br />
jelas nganggur, wong cuma ditaruh di tabungan. Bunganya toh nggak<br />
seberapa.<br />
Kalau Anda kreatif, Anda bisa memiliki penghasilan tambahan dengan<br />
memproduktifkan sebagian dari Rp 20 juta yang Anda punya tadi. Sebagai<br />
contoh, Anda bisa memakai Rp 10 juta saja dari uang tersebut untuk Anda<br />
investasikan dan mendapatkan penghasilan tambahan yang baru, sama<br />
ibaratnya seperti kalau Anda punya anggota keluarga yang ikut bekerja<br />
menyumbang penghasilan kepada keluarga.<br />
Masalahnya sekarang, bagaimana menginvestasikan uang tersebut supaya ia<br />
bisa menghasilkan pemasukan untuk keluarga Anda? Hanya ada dua<br />
jawabannya:<br />
• Menginvestasikannya ke Usaha<br />
• Menginvestasikannya ke Produk</p>
<p>Kalau Anda menginvestasikannya ke Usaha, Anda mungkin bisa<br />
mendapatkan penghasilan yang lumayan dari situ. Untuk awalnya, sambil<br />
tetap Anda melakukan pekerjaan Anda yang utama, Anda bisa menjalankan<br />
usaha tersebut dengan mengajak &#8211; katakan &#8211; anggota keluarga Anda. Lama<br />
kelamaan, setelah beberapa bulan misalnya, Anda bisa menyerahkan<br />
sepenuhnya pengelolaan usaha tersebut kepada anggota keluarga Anda,<br />
sementara Anda tetap bekerja di pekerjaan awal Anda. Dengan demikian,<br />
saat ini bukan hanya Anda yang cari uang, tapi juga uang Anda bisa<br />
&#8216;digerakkan&#8217; untuk cari uang juga. Walaupun mungkin pada awalnya ia tetap<br />
butuh bantuan Anda untuk bisa &#8216;digerakkan&#8217;.<br />
Selain ke usaha, Anda juga bisa menginvestasikan uang Anda ke produk. Di<br />
sini, hasil yang Anda dapatkan mungkin lebih kecil daripada kalau Anda<br />
melakukan investasi ke usaha. Tapi, usaha awal yang Anda lakukan untuk<br />
menggerakkan uang tersebut untuk mencari uang lagi akan lebih ringan<br />
dibanding kalau Anda melakukannya lewat membuka usaha. Umumnya,<br />
produk-produk yang bisa Anda pilih untuk bisa membuat uang Anda bekerja<br />
mencari uang lagi adalah produk-produk yang minimal bisa memberikan hasil<br />
sebesar deposito. Tentunya, kalau Anda bisa mencari produk lain yang<br />
memberikan hasil lebih besar akan lebih bagus.<br />
Jadi sekali lagi Bapak Ibu, kalau saat ini cuma Anda dan suami Anda yang<br />
bekerja cari uang, mulai sekarang jangan lagi ada anggapan bahwa cuma<br />
Anda berdua yang bisa bekerja mendapatkan uang. Tapi juga uang Anda bisa<br />
&#8216;digerakkan&#8217; untuk mendapatkan uang lagi. Kalau Anda terus yang harus<br />
bekerja untuk cari uang, capek dong Bu! Jadi, jangan biarkan cuma Anda<br />
sendiri yang bekerja cari uang. Libatkan juga uang Anda untuk bisa cari uang<br />
juga. Bukan begitu?<br />
Salam.<br />
Safir Senduk<br />
Perencana Keuangan</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yandics.biz/2011/12/menggerakkan-uang-untuk-mencari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>EMPAT PERTIMBANGAN SEBELUM BERINVESTASI</title>
		<link>http://www.yandics.biz/2011/12/empat-pertimbangan-sebelum-berinvestasi/#utm_source=feed&#038;utm_medium=feed&#038;utm_campaign=feed?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=empat-pertimbangan-sebelum-berinvestasi</link>
		<comments>http://www.yandics.biz/2011/12/empat-pertimbangan-sebelum-berinvestasi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Dec 2011 09:56:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yandics</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://www.yandics.biz/?p=157</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Safir Senduk Dikutip dari Tabloid NOVA No. 738/XIV Santi baru saja pulang dari bank. Ibu muda ini baru saja mengambil sejumlah uang untuk digunakannya membiayai pengeluaran rumah tangganya. Ia melihat buku tabungannya, dan memperhatikan jumlah bunga yang ia dapatkan dalam rekeningnya. Melihat besarnya bunga, Santi merasa tidak puas. Bayangkan, bunga yang ia dapatkan hanya sekitar 10 &#8211; 12 persen per tahun. Baginya, jumlah itu terlalu sedikit. Ia menginginkan lebih banyak. Ketika membaca NOVA edisi lalu yang membahas tentang berbagai macam investasi usaha, terpikirlah olehnya kenapa ia tidak mencobanya. Hanya saja ia masih bingung usaha apa. Beberapa edisi yang lalu Santi membaca tentang bagaimana menyikapi tawaran investasi di media massa. Ya, selain NOVA, Santi juga berlangganan sebuah harian Ibu Kota dan di situ terdapat berbagai macam iklan tawaran investasi usaha. Santi lalu menghitung tabungannya, ada sekitar Rp 25 juta. Itu simpanan pribadinya sejak dia kuliah dulu. Di koran ia baru saja membaca sebuah tawaran untuk berinvestasi pada sebuah Usaha Agribisnis. Investasi minimalnya sekitar Rp 10 juta, dan tawaran keuntungannya bisa sekitar 40 persen setahun. Ambil enggak, ya? Beberapa dari Anda mungkin sedang berada pada situasi yang mirip dengan Santi sekarang. Anda punya uang, tapi Anda bingung tentang apa yang akan Anda lakukan terhadap uang Anda itu. Apakah didiamkan saja, atau diinvestasikan saja ke deposito, atau malah ke dalam usaha? Nah, bila Anda memang berniat melakukan investasi, ada sejumlah hal yang harus dipertimbangkan sebelum Anda melakukannya. Yakni: Bila penghasilan Anda selama ini adalah dari gaji atau komisi, dan Anda tidak punya persediaan uang yang lain, maka mungkin tak ada salahnya bila Anda menyisihkan dulu sejumlah uang untuk Dana Cadangan. Guna Dana Cadangan itu adalah untuk berjaga-jaga kalau-kalau Anda harus kehilangan penghasilan Anda. Setelah itu, barulah sisanya Anda investasikan. Ingat, investasi usaha adalah investasi yang risikonya cukup besar sehingga pastikan bahwa Anda sudah memiliki persediaan dana yang cukup bila Anda terpaksa harus kehilangan penghasilan. Jangan lupa untuk menyisihkan juga sejumlah uang untuk diinvestasikan pada Produk Investasi bukan usaha, seperti pada Deposito atau Tabungan. Jangan 100 persen menggunakan uang Anda untuk investasi usaha. Risikonya akan menjadi terlalu besar. Komposisi 30 : 70 juga sudah cukup baik kok, yaitu 30 persen untuk Deposito dan 70 persen untuk Investasi Usaha. Bila penghasilan Anda selama ini adalah juga dari usaha, maka dengan mengambil sebuah Tawaran Investasi Usaha, sama dengan bila Anda memiliki dua macam usaha. Yakinkan bahwa Anda memang bisa berkonsentrasi pada kedua usaha tersebut, walaupun sebenarnya salah satu di antaranya tidak dikelola langsung oleh Anda. Bila Anda hanya bisa fokus kepada satu macam usaha saja, jangan ragu-ragu untuk menolak sebuah tawaran investasi usaha, betapapun bagusnya itu. Bagaimana bila simpanan Anda terbatas dan langsung habis digunakan untuk Dana Cadangan? Jawabannya jelas, jangan dulu berinvestasi pada tawaran<a href="http://www.yandics.biz/2011/12/empat-pertimbangan-sebelum-berinvestasi/"> <br /><br /> (Read More...)</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Safir Senduk<br />
Dikutip dari Tabloid NOVA No. 738/XIV</p>
<p>Santi baru saja pulang dari bank. Ibu muda ini baru saja mengambil sejumlah<br />
uang untuk digunakannya membiayai pengeluaran rumah tangganya. Ia<br />
melihat buku tabungannya, dan memperhatikan jumlah bunga yang ia<br />
dapatkan dalam rekeningnya.<br />
Melihat besarnya bunga, Santi merasa tidak puas. Bayangkan, bunga yang ia<br />
dapatkan hanya sekitar 10 &#8211; 12 persen per tahun. Baginya, jumlah itu terlalu<br />
sedikit. Ia menginginkan lebih banyak.<br />
Ketika membaca NOVA edisi lalu yang membahas tentang berbagai macam<br />
investasi usaha, terpikirlah olehnya kenapa ia tidak mencobanya. Hanya saja ia masih bingung usaha apa.<br />
Beberapa edisi yang lalu Santi membaca tentang bagaimana menyikapi tawaran investasi di media massa. Ya, selain NOVA, Santi juga berlangganan sebuah harian Ibu Kota dan di situ terdapat berbagai macam iklan tawaran investasi usaha.<br />
Santi lalu menghitung tabungannya, ada sekitar Rp 25 juta. Itu simpanan<br />
pribadinya sejak dia kuliah dulu. Di koran ia baru saja membaca sebuah<br />
tawaran untuk berinvestasi pada sebuah Usaha Agribisnis. Investasi minimalnya sekitar Rp 10 juta, dan tawaran keuntungannya bisa sekitar 40<br />
persen setahun. Ambil enggak, ya?<br />
Beberapa dari Anda mungkin sedang berada pada situasi yang mirip dengan<br />
Santi sekarang. Anda punya uang, tapi Anda bingung tentang apa yang akan<br />
Anda lakukan terhadap uang Anda itu. Apakah didiamkan saja, atau<br />
diinvestasikan saja ke deposito, atau malah ke dalam usaha?</p>
<p>Nah, bila Anda memang berniat melakukan investasi, ada sejumlah hal yang<br />
harus dipertimbangkan sebelum Anda melakukannya. Yakni:</p>
<ol><span id="more-157"></span></p>
<li>Bila penghasilan Anda selama ini adalah dari gaji atau komisi, dan Anda tidak punya persediaan uang yang lain, maka mungkin tak ada salahnya bila Anda menyisihkan dulu sejumlah uang untuk Dana Cadangan. Guna Dana Cadangan itu adalah untuk berjaga-jaga kalau-kalau Anda harus kehilangan penghasilan Anda. Setelah itu, barulah sisanya Anda investasikan. Ingat, investasi usaha adalah investasi yang risikonya cukup besar sehingga pastikan bahwa Anda sudah memiliki persediaan dana yang cukup bila Anda terpaksa harus kehilangan penghasilan.</li>
<li>Jangan lupa untuk menyisihkan juga sejumlah uang untuk diinvestasikan pada Produk Investasi bukan usaha, seperti pada Deposito atau Tabungan. Jangan 100 persen menggunakan uang Anda untuk investasi usaha. Risikonya akan menjadi terlalu besar. Komposisi 30 : 70 juga sudah cukup baik kok, yaitu 30 persen untuk Deposito dan 70 persen untuk Investasi Usaha.</li>
<li>Bila penghasilan Anda selama ini adalah juga dari usaha, maka dengan mengambil sebuah Tawaran Investasi Usaha, sama dengan bila Anda memiliki dua macam usaha. Yakinkan bahwa Anda memang bisa berkonsentrasi pada kedua usaha tersebut, walaupun sebenarnya salah satu di antaranya tidak dikelola langsung oleh Anda. Bila Anda hanya bisa fokus kepada satu macam usaha saja, jangan ragu-ragu untuk menolak sebuah tawaran investasi usaha, betapapun bagusnya itu.</li>
<li>Bagaimana bila simpanan Anda terbatas dan langsung habis digunakan untuk Dana Cadangan? Jawabannya jelas, jangan dulu berinvestasi pada tawaran usaha yang ada. Prioritaskan untuk memiliki Dana Cadangan terlebih dahulu. Barulah setelah itu, kalau ada uang lebih, gunakan untuk usaha.</li>
</ol>
<p>Mudah-mudahan berbagai pertimbangan ini mempermudah Anda mengambil<br />
keputusan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yandics.biz/2011/12/empat-pertimbangan-sebelum-berinvestasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>RUMAHKU SURGAKU</title>
		<link>http://www.yandics.biz/2011/12/rumahku-surgaku/#utm_source=feed&#038;utm_medium=feed&#038;utm_campaign=feed?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=rumahku-surgaku</link>
		<comments>http://www.yandics.biz/2011/12/rumahku-surgaku/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Dec 2011 10:00:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yandics</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://www.yandics.biz/?p=154</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Ahmad Gozali Dikutip dari Majalah Alia Siapa sih yang tidak mau memiliki rumah sendiri. Setiap kita pastinya punya keinginan untuk memiliki rumah sendiri sebagai tempat berteduh di kala hujan dan beristirahat di kala malam. Apalagi bagi mereka yang sudah menikah. Tak lengkap rasanya hidup berkeluarga kalau masih menumpang pada orang tua. Bukankah dengan menikah menjadikan mereka sebuah keluarga sendiri yang juga mestinya tinggal di rumah sendiri. Bahkan istilah hidup berumah tangga pun oleh sebagian orang diartikan sebagai hidup bersama, di rumah sendiri, dengan kondisi yang terus meningkat seperti tangga. Namun sayangnya, harga rumah di daerah perkotaan menjadi sangat mahal seiring dengan pesatnya pembangunan bahkan sampai ke pinggiran kota. Kendala ini menyebabkan KPR menjadi pilihan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Sebagian besar pembelian rumah dilakukan dengan memanfaatkan kredit kepemilikan rumah yang saat ini banyak dikeluarkan oleh bank konvensional. KPR dari bank konvensional sebenarnya bukan solusi yang ideal bagi seorang muslim, karena mau tidak mau, walau dengan alasan darurat, umat islam dengan setengah hati harus menerima kenyataan keterlibatannya dengan pinjaman yang berbunga. Dengan kenyataan seperti ini, sepertinya menggiring umat islam, teriutama keluaraga muda, hanya memiliki dua pilihan, mengorbankan idealismenya untuk hidup bersih dan halal karena mengambil pinjaman berbunga, atau sama sekali tidak memiliki rumah. Walaupun masih terbatas, sebetulnya sudah ada pembiayaan perumahan dari bank syariah. Memang belum banyak orang tahu dan rasanya belum ada bank syariah yang gencar memasarkan produk ini. Namun kedepannya, produk ini bukan tidak mungkin menjadi produk unggulan bank syariah. Karena hampir setiap keluarga perlu yang namanya pembiayaan rumah, dan sebagian besar keluarga di Indonesia adalah muslim yang tentunya ingin tetap istiqomah dalam memiliki rumah yang sesuai dengan syariah. Pada prakteknya, mungkin tidak akan terlihat jelas adanya perbedaan dengan KPR biasa. Intinya adalah konsumen bisa membeli rumah dengan cara mencicil kepada bank. Bedanya adalah, pada KPR konvensional, bank sebetulnya memberikan pinjaman berupa uang kepada konsumen. Dan dengan uang tersebut konsumen kemudian membeli rumah kepada developer. Sedangkan dengan sistem syariah, bank membeli rumah dari developer dan menjualnya kembali kepada konsumen, tentunya konsumen membayar rumah tersebut dengan cara mencicil. Sama-sama mencicil untuk punya rumah, namun akadnya sungguh berbeda. KPR konvensional menggunakan akad pinjaman uang yang berbunga atau riba. Sedangkan bank syariah menggunakan akad jual beli yang halal. Contoh sederhananya begini: Developer membangun perumahan X dan menjualnya dengan harga Rp 100 juta untuk tipe 36/80. Karena tidak memiliki uang tunai sebesar Rp 100 juta, konsumen bisa mengajukan pembiayaan rumah kepada bank syariah Y agar bisa membelinya secara mencicil saja. Jika Bank syariah Y menyetujuinya, bank akan membeli rumah tersebut dari developer seharga Rp 100 juta. Bank kemudian menjualnya kembali kepada konsumen dengan harga Rp 120 juta. Dan konsumen bisa mencicil rumah seharga Rp 120 juta tersebut dalam jangka waktu 10 tahun<a href="http://www.yandics.biz/2011/12/rumahku-surgaku/"> <br /><br /> (Read More...)</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Ahmad Gozali</p>
<p>Dikutip dari Majalah Alia</p>
<p>Siapa sih yang tidak mau memiliki rumah sendiri. Setiap kita pastinya punya<br />
keinginan untuk memiliki rumah sendiri sebagai tempat berteduh di kala hujan<br />
dan<span id="more-154"></span> beristirahat di kala malam. Apalagi bagi mereka yang sudah menikah. Tak<br />
lengkap rasanya hidup berkeluarga kalau masih menumpang pada orang tua.<br />
Bukankah dengan menikah menjadikan mereka sebuah keluarga sendiri yang<br />
juga mestinya tinggal di rumah sendiri. Bahkan istilah hidup berumah tangga<br />
pun oleh sebagian orang diartikan sebagai hidup bersama, di rumah sendiri,<br />
dengan kondisi yang terus meningkat seperti tangga.<br />
Namun sayangnya, harga rumah di daerah perkotaan menjadi sangat mahal<br />
seiring dengan pesatnya pembangunan bahkan sampai ke pinggiran kota.<br />
Kendala ini menyebabkan KPR menjadi pilihan yang tidak bisa ditawar-tawar<br />
lagi. Sebagian besar pembelian rumah dilakukan dengan memanfaatkan<br />
kredit kepemilikan rumah yang saat ini banyak dikeluarkan oleh bank<br />
konvensional.<br />
KPR dari bank konvensional sebenarnya bukan solusi yang ideal bagi<br />
seorang muslim, karena mau tidak mau, walau dengan alasan darurat, umat<br />
islam dengan setengah hati harus menerima kenyataan keterlibatannya<br />
dengan pinjaman yang berbunga. Dengan kenyataan seperti ini, sepertinya<br />
menggiring umat islam, teriutama keluaraga muda, hanya memiliki dua<br />
pilihan, mengorbankan idealismenya untuk hidup bersih dan halal karena<br />
mengambil pinjaman berbunga, atau sama sekali tidak memiliki rumah.<br />
Walaupun masih terbatas, sebetulnya sudah ada pembiayaan perumahan dari<br />
bank syariah. Memang belum banyak orang tahu dan rasanya belum ada<br />
bank syariah yang gencar memasarkan produk ini. Namun kedepannya,<br />
produk ini bukan tidak mungkin menjadi produk unggulan bank syariah.<br />
Karena hampir setiap keluarga perlu yang namanya pembiayaan rumah, dan<br />
sebagian besar keluarga di Indonesia adalah muslim yang tentunya ingin<br />
tetap istiqomah dalam memiliki rumah yang sesuai dengan syariah.<br />
Pada prakteknya, mungkin tidak akan terlihat jelas adanya perbedaan dengan<br />
KPR biasa. Intinya adalah konsumen bisa membeli rumah dengan cara<br />
mencicil kepada bank. Bedanya adalah, pada KPR konvensional, bank<br />
sebetulnya memberikan pinjaman berupa uang kepada konsumen. Dan<br />
dengan uang tersebut konsumen kemudian membeli rumah kepada<br />
developer. Sedangkan dengan sistem syariah, bank membeli rumah dari<br />
developer dan menjualnya kembali kepada konsumen, tentunya konsumen<br />
membayar rumah tersebut dengan cara mencicil. Sama-sama mencicil untuk<br />
punya rumah, namun akadnya sungguh berbeda. KPR konvensional<br />
menggunakan akad pinjaman uang yang berbunga atau riba. Sedangkan<br />
bank syariah menggunakan akad jual beli yang halal.<br />
Contoh sederhananya begini: Developer membangun perumahan X dan<br />
menjualnya dengan harga Rp 100 juta untuk tipe 36/80. Karena tidak memiliki<br />
uang tunai sebesar Rp 100 juta, konsumen bisa mengajukan pembiayaan<br />
rumah kepada bank syariah Y agar bisa membelinya secara mencicil saja.<br />
Jika Bank syariah Y menyetujuinya, bank akan membeli rumah tersebut dari<br />
developer seharga Rp 100 juta. Bank kemudian menjualnya kembali kepada<br />
konsumen dengan harga Rp 120 juta. Dan konsumen bisa mencicil rumah<br />
seharga Rp 120 juta tersebut dalam jangka waktu 10 tahun (120 bulan)<br />
dengan membayar Rp 1 juta per bulan. Sama seperti pembelian rumah pada<br />
umumnya, tentunya akan ada juga biaya tambahan seperti biaya notaris,<br />
pajak, BPHTB, penilaian/apraisal, provisi, administrasi dan sebagainya<br />
tergantung dari kebijakan bank dan developer. Dan untuk menegaskan<br />
komitmen konsumen, bank juga bisa meminta konsumen untuk membayar<br />
uang muka atau (DP) down payment di awal.<br />
Berbeda akad, tentunya berbeda pula konsekuensinya antara KPR<br />
konvensional dan pembiayaan rumah dari bank syariah. Pada KPR<br />
konvensional, transaksinya adalah bank meminjamkan uang kepada<br />
konsumen, dan konsumen harus mengembalikannya dengan cara mencicil<br />
pokok hutang dan ditambah dengan bunganya selama jangka waktu tertentu.<br />
Jika di tengah jalan suku bunga naik, maka cicilan yang harus dibayar juga<br />
akan naik sesuai dengan kenaikan suku bunga. Konsumen harus membayar<br />
lebih mahal dari rencana awal.<br />
Sedangkan kalau akadnya jual beli seperti pada bank syariah, harga harus<br />
sudah ditetapkan di awal dan tidak bisa dirubah-rubah di tengah jalan. Jika<br />
bank menjual rumahnya ke konsumen dengan harga Rp 120 juta, maka<br />
konsumen hanya diharuskan membayar Rp 120 juta tanpa peduli dengan<br />
kenaikan suku bunga.<br />
Sesuai dengan semangat jual beli dalam Islam yang menganut prinsip suka<br />
sama suka, harga jual rumah dari bank ke konsumen dan jangka waktu<br />
pelunasan sebetulnya bisa dilakukan tawar menawar sampai tercapai<br />
kesepakatan. Namun tentu saja bank syariah juga punya kebijakan penetapan<br />
harga dan jangka waktu sendiri-sendiri.<br />
Selain kelima bank tersebut, produk pembiayaan perumahan secara syariah<br />
juga bisa diakses di BNI Syariah, BII Syariah, Bank Bukopin Syariah dan Bank<br />
Syariah Indonesia. Sehingga totalnya ada 9 bank syariah yang saat ini<br />
memiliki produk pembiayaan perumahan secara syariah.<br />
Dan kabar baik juga datang dari BTN yang sudah dikenal selama ini sebagai<br />
bank pemerintah yang paling banyak menggelontorkan dana untuk KPR. Jika<br />
tidak ada aral melintang, tidak lama lagi BTN akan meluncurkan cabang<br />
syariahnya. Dan kabarnya pula, KPR Syariah menjadi produk andalan<br />
mereka.<br />
Jika rencana ini terwujud, maka bukan tidak mungkin akan ada banyak dana<br />
yang dikucurkan untuk membantu masyarakat memiliki surga di dunia tanpa<br />
harus terlibat dengan riba.</p>
<p>Salam<br />
Ahmad Gozali<br />
Perencana Keuangan</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yandics.biz/2011/12/rumahku-surgaku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>WIRAUSAHA UNTUK DOKTER.</title>
		<link>http://www.yandics.biz/2011/12/wirausaha-untuk-dokter/#utm_source=feed&#038;utm_medium=feed&#038;utm_campaign=feed?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=wirausaha-untuk-dokter</link>
		<comments>http://www.yandics.biz/2011/12/wirausaha-untuk-dokter/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Dec 2011 07:43:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yandics</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://www.yandics.biz/?p=151</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Safir Senduk Dikutip dari Harian Seputar Indonesia, Mei 2007 Dengan hormat, Bung safir senduk yang terhormat, Saya pemirsa setia Money talks di metro tv, dan saya sangat senang dengan ulasan Bung Safir, saya ingin berkonsultasi dengan bung safir. Saya seorang kepala rumah tangga, usia 33 tahun, pendidikan saya seorang sarjana kedokteran, tapi karena kecelakaan saya tida bisa lagi menjalankan praktek pribadi saya secara sempurna, karena kaki saya tidak bisa dipakai untuk berjalan dengan normal, Usaha apa yang dapat saya lakukan untuk orang cacat seperti saya (yang tidak bisa berjalan)? Mungkin usaha yang lebih banyak di rumah? Atas perhatian bung safir sangat saya harapkan. terimakasih Indriyanto Jawaban: Halo Mas Indriyanto, apa kabar? semoga keadaan anda sehat-sehat selalu dirumah. Keinginan anda untuk membuka usaha dirumah adalah suatu upaya yang patut saya acungi jempol. Jangan jadikan kekurangan anda menjadi sebab atau hambatan untuk maju dan berkembang. Anda bisa lihat atau mungkin anda pernah baca di majalah atau koran-koran ibukota, seorang tuna grahita tapi bisa menjadi seorang penyanyi, ada juga seorang penderita tuna daksa menjadi seorang pelukis. Bukan main bukan!. Yang terpenting adalah kemauan, kemauan dan kemauan untuk bertindak, berusaha dan menyatakan bahwa anda bisa. Nah, sekarang kembali ke permasalahan Anda. Untuk jenis usaha yang cocok yah tergantung kepada anda. Dalam berusaha ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Pertama, buatlah suatu usaha yang sesuai dengan latar belakang kemampuan atau bakat yang anda miliki. Misalnya anda memiliki latar belakang sebagai dokter, mungkin anda bisa menjadi distributor untuk alat-alat kesehatan atau obat-obatan. Menurut saya, sebagai seorang dokter tentunya anda mengetahui produk mana yang bagus untuk pasien atau konsumen yang berkaitan dengan hal-hal tersebut. Kedua, konsistenlah dengan usaha apa yang anda telah buat. Naik turunnya suatu usaha itu hal yang biasa. Maksud saya, jangan mudah menyerah apabila menghadapi hambatan yang tentunya akan datang kapan saja. Ketiga, ketahuilah risiko dari usaha apa yang anda buat. Dengan mengetahui risiko, anda jadi mengetahui, hal-hal apa saja yang seharusnya anda lakukan untuk meminimalisir terjadinya risiko. Karena pada dasarnya, setiap risiko itu menempel secara langsung pada usaha yang anda jalani. dan terakhir, pisahkanlah antara keuangan hasil usaha anda dengan keuangan pribadi anda. Pemisahan ini, perlu di lakukan, agar uang hasil usaha dan uang pribadi tidak tercampur. Maksudnya, uang hasil usaha jangan Anda pergunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan begitu juga sebaliknya. Apabila Anda ingin mengambil uang dari usaha, gajilah diri Anda secara bulanan dan hanya sekali saja mengambilnya. Misalnya Anda mengambil gaji sebesar 40% dari keuntungan tiap bulannya. Sehingga tidak terjadi kekacauan keuangan apabila salah satu dari keuangan anda terganggu. Selamat berwirausaha. Salam, Safir Senduk Perencana Keuangan]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Safir Senduk</p>
<p>Dikutip dari Harian Seputar Indonesia, Mei 2007</p>
<p>Dengan hormat,<br />
Bung safir senduk yang terhormat,<br />
Saya pemirsa setia Money talks di metro tv, dan saya sangat senang dengan<br />
ulasan<span id="more-151"></span> Bung Safir, saya ingin berkonsultasi dengan bung safir.<br />
Saya seorang kepala rumah tangga, usia 33 tahun, pendidikan saya seorang<br />
sarjana kedokteran, tapi karena kecelakaan saya tida bisa lagi menjalankan<br />
praktek pribadi saya secara sempurna, karena kaki saya tidak bisa dipakai<br />
untuk berjalan dengan normal, Usaha apa yang dapat saya lakukan untuk orang<br />
cacat seperti saya (yang tidak bisa berjalan)? Mungkin usaha yang lebih banyak<br />
di rumah?<br />
Atas perhatian bung safir sangat saya harapkan. terimakasih<br />
Indriyanto</p>
<p>Jawaban:<br />
Halo Mas Indriyanto, apa kabar? semoga keadaan anda sehat-sehat selalu<br />
dirumah.<br />
Keinginan anda untuk membuka usaha dirumah adalah suatu upaya yang patut<br />
saya acungi jempol. Jangan jadikan kekurangan anda menjadi sebab atau<br />
hambatan untuk maju dan berkembang. Anda bisa lihat atau mungkin anda pernah baca di majalah atau koran-koran ibukota, seorang tuna grahita tapi bisa menjadi seorang penyanyi, ada juga seorang penderita tuna daksa menjadi seorang pelukis. Bukan main bukan!. Yang terpenting adalah kemauan, kemauan dan kemauan untuk bertindak, berusaha dan menyatakan bahwa anda bisa.<br />
Nah, sekarang kembali ke permasalahan Anda. Untuk jenis usaha yang cocok<br />
yah tergantung kepada anda. Dalam berusaha ada beberapa hal yang harus<br />
diperhatikan.<br />
Pertama, buatlah suatu usaha yang sesuai dengan latar belakang kemampuan<br />
atau bakat yang anda miliki. Misalnya anda memiliki latar belakang sebagai<br />
dokter, mungkin anda bisa menjadi distributor untuk alat-alat kesehatan atau<br />
obat-obatan. Menurut saya, sebagai seorang dokter tentunya anda mengetahui<br />
produk mana yang bagus untuk pasien atau konsumen yang berkaitan dengan<br />
hal-hal tersebut.<br />
Kedua, konsistenlah dengan usaha apa yang anda telah buat. Naik turunnya<br />
suatu usaha itu hal yang biasa. Maksud saya, jangan mudah menyerah apabila<br />
menghadapi hambatan yang tentunya akan datang kapan saja.<br />
Ketiga, ketahuilah risiko dari usaha apa yang anda buat. Dengan mengetahui<br />
risiko, anda jadi mengetahui, hal-hal apa saja yang seharusnya anda lakukan<br />
untuk meminimalisir terjadinya risiko. Karena pada dasarnya, setiap risiko itu<br />
menempel secara langsung pada usaha yang anda jalani.<br />
dan terakhir, pisahkanlah antara keuangan hasil usaha anda dengan keuangan<br />
pribadi anda. Pemisahan ini, perlu di lakukan, agar uang hasil usaha dan uang<br />
pribadi tidak tercampur. Maksudnya, uang hasil usaha jangan Anda pergunakan<br />
untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan begitu juga sebaliknya.<br />
Apabila Anda ingin mengambil uang dari usaha, gajilah diri Anda secara<br />
bulanan dan hanya sekali saja mengambilnya. Misalnya Anda mengambil gaji<br />
sebesar 40% dari keuntungan tiap bulannya. Sehingga tidak terjadi kekacauan<br />
keuangan apabila salah satu dari keuangan anda terganggu.<br />
Selamat berwirausaha.</p>
<p>Salam,<br />
Safir Senduk<br />
Perencana Keuangan</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yandics.biz/2011/12/wirausaha-untuk-dokter/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>APA UNTUNGNYA PUNYA KARTU KREDIT?</title>
		<link>http://www.yandics.biz/2011/12/apa-untungnya-punya-kartu-kredit/#utm_source=feed&#038;utm_medium=feed&#038;utm_campaign=feed?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=apa-untungnya-punya-kartu-kredit</link>
		<comments>http://www.yandics.biz/2011/12/apa-untungnya-punya-kartu-kredit/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Dec 2011 09:34:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yandics</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://www.yandics.biz/?p=149</guid>
		<description><![CDATA[Dikutip dari Tabloid NOVA No. 758/XV Pak Safir yang terhormat, Sepengetahuan saya, Bapak belum pernah membahas kartu kredit secara khusus ya? Soalnya begini, Pak. Akhir-akhir ini banyak datang tawaran dari penerbit kartu kredit. Bisakah Bapak bahas, apa keunggulan dan kekurangan kartu kredit? Soalnya, informasi yang saya peroleh hanya yang &#8220;nyaman&#8221;-nya. Beberapa hal lain yang ingin saya ketahui: 1. Apa benar, dengan kartu kredit kita bisa mengambil uang tunai dalam batas yang ditentukan? Jadi, bukan untuk belanja saja? 2. Bagaimana cara penghitungan bunganya? 3. Bagaimana cara pembayarannya? 4. Apa saja ciri kartu kredit yang baik? Terima kasih atas kesediaan Bapak membahasnya. AS &#8211; Bandung Jawab: Bu AS di Bandung, Tentang kartu kredit sudah pernah dibahas di rubrik ini. Hanya saja memang sudah lama. Tapi tidak mengapa jika kita bahas lagi. Seorang teman saya senang sekali memakai kartu kredit. Dalam kegiatannya sehari-hari dia tidak pernah lupa membawa kartu tersebut dalam dompetnya, bahkan dia merasa kurang aman jika berpergian ke luar kota tanpa kartu kredit. Tapi yang paling tidak dia sukai dari kartu kredit adalah hutangnya yang berbunga. Karena itu, dia selalu mencoba membayar tagihan kartu kredit-nya secara lunas setiap bulannya, dan sampai sekarang dia tidak pernah mengalami masalah dengan Kartu Kredit-nya. Kartu kredit menurut saya adalah salah satu alat pembayaran yang istimewa, karena itu tidak ada salahnya Anda memilikinya. Contohnya, jika tiba-tiba ada anggota keluarga yang harus masuk rumah sakit dan Anda tidak punya uang tunai untuk pembayarannya, maka Anda dapat menggunakan kartu kredit. Berbagai macam pembayaran yang sifatnya darurat dapat diatasi segera dengan kartu kredit. Bahkan di Indonesia, pada saat ini penerima (merchant) Kartu Kredit masih jauh lebih banyak daripada penerima Kartu Debit. Jadi Anda lihat bahwa sebenarnya kartu kredit bukanlah sumber masalah. Yang menjadi masalah adalah jika tiap bulannya Anda hanya mampu membayar minimal saja dari total tagihan untuk pembelanjaan barang-barang konsumtif yang nilainya menurun. Karena dari tiap sisa tagihan akan dikenai bunga, maka jangan kaget jika hutang kartu kredit Anda nilainya bisa jauh lebih besar daripada harga barang itu sendiri! Walaupun masih banyak orang yang takut memakai kartu kredit, namun alat pembayaran yang satu ini sebetulnya layak Anda miliki karena berbagai kelebihannya, antara lain : 1. Sebagai alat ganti pembayaran uang tunai yang lebih praktis dan aman. Dengan Kartu Kredit, Anda tidak perlu banyak membawa persediaan uang tunai dalam dompet Anda kan? 2. Sebagai alat membayar segala macam pengeluaran yang bersifat darurat atau tidak bisa ditunda lagi, padahal pada saat yang bersamaan Anda tidak memiliki uang tunai untuk membayarnya. 3. Bisa untuk menarik uang tunai dari mesin ATM. Maksimal batas penarikan uang tunai biasanya 40 persen dari batas pemakaian kartu kredit Anda. Khusus untuk penarikan uang tunai, bunga kredit yang dikenakan lebih besar. Besarnya jumlah uang yang bisa ditarik<a href="http://www.yandics.biz/2011/12/apa-untungnya-punya-kartu-kredit/"> <br /><br /> (Read More...)</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dikutip dari Tabloid NOVA No. 758/XV</p>
<p>Pak Safir yang terhormat,<br />
Sepengetahuan saya, Bapak belum pernah membahas kartu kredit secara khusus ya? Soalnya begini, Pak. Akhir-akhir ini banyak datang tawaran<span id="more-149"></span> dari penerbit kartu kredit. Bisakah Bapak bahas, apa keunggulan dan kekurangan kartu kredit? Soalnya, informasi yang saya peroleh hanya yang &#8220;nyaman&#8221;-nya. Beberapa hal lain yang ingin saya ketahui:<br />
1. Apa benar, dengan kartu kredit kita bisa mengambil uang tunai dalam<br />
batas yang ditentukan? Jadi, bukan untuk belanja saja?<br />
2. Bagaimana cara penghitungan bunganya?<br />
3. Bagaimana cara pembayarannya?<br />
4. Apa saja ciri kartu kredit yang baik?</p>
<p>Terima kasih atas kesediaan Bapak membahasnya.<br />
AS &#8211; Bandung</p>
<p>Jawab:<br />
Bu AS di Bandung,<br />
Tentang kartu kredit sudah pernah dibahas di rubrik ini. Hanya saja memang<br />
sudah lama. Tapi tidak mengapa jika kita bahas lagi.<br />
Seorang teman saya senang sekali memakai kartu kredit. Dalam kegiatannya<br />
sehari-hari dia tidak pernah lupa membawa kartu tersebut dalam dompetnya,<br />
bahkan dia merasa kurang aman jika berpergian ke luar kota tanpa kartu kredit.<br />
Tapi yang paling tidak dia sukai dari kartu kredit adalah hutangnya yang<br />
berbunga. Karena itu, dia selalu mencoba membayar tagihan kartu kredit-nya<br />
secara lunas setiap bulannya, dan sampai sekarang dia tidak pernah mengalami masalah dengan Kartu Kredit-nya.<br />
Kartu kredit menurut saya adalah salah satu alat pembayaran yang istimewa,<br />
karena itu tidak ada salahnya Anda memilikinya. Contohnya, jika tiba-tiba ada<br />
anggota keluarga yang harus masuk rumah sakit dan Anda tidak punya uang<br />
tunai untuk pembayarannya, maka Anda dapat menggunakan kartu kredit.<br />
Berbagai macam pembayaran yang sifatnya darurat dapat diatasi segera<br />
dengan kartu kredit. Bahkan di Indonesia, pada saat ini penerima (merchant)<br />
Kartu Kredit masih jauh lebih banyak daripada penerima Kartu Debit.<br />
Jadi Anda lihat bahwa sebenarnya kartu kredit bukanlah sumber masalah. Yang<br />
menjadi masalah adalah jika tiap bulannya Anda hanya mampu membayar<br />
minimal saja dari total tagihan untuk pembelanjaan barang-barang konsumtif<br />
yang nilainya menurun. Karena dari tiap sisa tagihan akan dikenai bunga, maka<br />
jangan kaget jika hutang kartu kredit Anda nilainya bisa jauh lebih besar<br />
daripada harga barang itu sendiri!<br />
Walaupun masih banyak orang yang takut memakai kartu kredit, namun alat<br />
pembayaran yang satu ini sebetulnya layak Anda miliki karena berbagai<br />
kelebihannya, antara lain :<br />
1. Sebagai alat ganti pembayaran uang tunai yang lebih praktis dan aman.<br />
Dengan Kartu Kredit, Anda tidak perlu banyak membawa persediaan uang<br />
tunai dalam dompet Anda kan?<br />
2. Sebagai alat membayar segala macam pengeluaran yang bersifat darurat<br />
atau tidak bisa ditunda lagi, padahal pada saat yang bersamaan Anda<br />
tidak memiliki uang tunai untuk membayarnya.<br />
3. Bisa untuk menarik uang tunai dari mesin ATM. Maksimal batas penarikan<br />
uang tunai biasanya 40 persen dari batas pemakaian kartu kredit Anda.<br />
Khusus untuk penarikan uang tunai, bunga kredit yang dikenakan lebih<br />
besar. Besarnya jumlah uang yang bisa ditarik juga tergantung dari<br />
seberapa besar sisa batas pemakaian yang ada.<br />
4. Keleluasaan dalam pembayaran tagihan yang bisa dilakukan dalam<br />
jumlah minimal saja atau bisa dicicil, di mana Anda akan diberikan<br />
tenggang waktu pembayaran. Artinya, Anda tidak diharuskan langsung<br />
membayar tagihan saat itu juga atau keesokan harinya, tetapi biasanya<br />
diberikan masa tenggang beberapa hari (sekitar 20, 25 sampai 30 hari dari<br />
saat transaksi). Atau, Anda juga dapat membayarnya ketika surat tagihan<br />
datang. Sedangkan cara pelunasannya dapat Anda pilih, yaitu lunas<br />
sekaligus atau dicicil sesuai jumlah minimal pembayaran yang juga tertera<br />
pada surat tagihan.<br />
5. Cara menghitung bunga kartu kredit cukup mudah, tapi hasil perhitungan<br />
dengan kartu kredit sebenarnya mungkin akan ada sedikit perbedaan lebih<br />
kurang. Yang penting adalah bahwa Anda mengetahui bahwa tiap tagihan<br />
yang belum dibayar lunas akan dikenai bunga dan jumlahnya akan<br />
ditambahkan ke dalam jumlah tagihan baru pada bulan berikutnya. Begitu<br />
seterusnya.<br />
Pemilihan kartu kredit harus didasari atas kebutuhan Anda, jangan semata-mata<br />
karena tergiur hadiah, suvenir, undian, atau malah karena tidak adanya iuran<br />
pada tahun pertama. Jika pendapatan Anda pas-pasan maka cukup punya satu<br />
kartu kredit saja sebagai tindakan berjaga-jaga jika ada keadaan darurat.<br />
Tentu saja jumlah kartu kredit yang dimiliki bisa ditambah sejalan dengan<br />
meningkatnya kebutuhan dan pendapatan Anda. Setelah memperhitungkan<br />
kebutuhan Anda, maka barulah Anda mencari kartu kredit yang Anda butuhkan.<br />
Dalam memilih Kartu Kredit, tidak ada salahnya Anda mencari Kartu Kredit<br />
dengan jaringan penerimaan yang cukup luas, dan bila Anda punya<br />
kecenderungan untuk tidak membayar tagihan secara lunas tidak ada salahnya<br />
bila Anda mencari kartu dengan bunga yang rendah. Mudah-mudahan Anda<br />
tidak &#8220;ngeri&#8221; lagi pada kartu kredit.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yandics.biz/2011/12/apa-untungnya-punya-kartu-kredit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>JANGAN ANGGAP REMEH UANG RECEH</title>
		<link>http://www.yandics.biz/2011/11/jangan-anggap-remeh-uang-receh/#utm_source=feed&#038;utm_medium=feed&#038;utm_campaign=feed?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=jangan-anggap-remeh-uang-receh</link>
		<comments>http://www.yandics.biz/2011/11/jangan-anggap-remeh-uang-receh/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Nov 2011 07:36:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yandics</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://www.yandics.biz/?p=146</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Safir Senduk Dikutip dari Tabloid NOVA No. 652/XIII Kalau saya anggap bahwa sebagian besar dari Anda pada saat ini masih mencicil rumah, maka sangat mungkin sekali bahwa cicilan rumah yang Anda bayar menghabiskan sekitar 30 persen dari penghasilan keluarga Anda. Bila Anda membaca tulisan di NOVA beberapa nomor yang lalu bahwa Anda sebaiknya menabung sebelum membayar biaya hidup Anda, maka sangat mungkin pula Anda sekarang mulai melakukannya. Apa yang Anda tabung? Mungkin saja untuk pendidikan anak Anda kelak. Apakah mungkin Anda menabung sekitar 15 persen dari penghasilan Anda untuk pendidikan anak Anda kelak? Ya, sangat mungkin sekali. Apa lagi pengeluaran yang mungkin ada? Ah, ya. Sangat mungkin sekali Anda juga membayar premi asuransi. Entah itu asuransi jiwa, kesehatan, atau kerugian (untuk rumah dan mobil Anda). Bisa saja Anda menghabiskan sekitar 20 persen dari penghasilan Anda untuk membayar asuransi-asuransi itu. CUMA &#8220;UANG RECEH&#8221;? Sekarang mari kita berhitung. Dengan perkiraan kondisi seperti di atas, maka total pengeluaran Anda kemungkinan akan seperti di bawah ini. UANG MASUK Penghasilan : 100 persen UANG KELUAR Cicilan Hutang : 30 persen Tabungan Rutin : 15 persen Premi Asuransi : 20 persen Total : 65 persen dari penghasilan Ini berarti, sebelum Anda sempat belanja kebutuhan hidup sehari-hari, atau sepasang sepatu atau pakaian, atau biaya transportasi sehari-hari, dan sebelum Anda membayar kebutuhan rekreasi, sekitar 65 persen dari penghasilan Anda sudah berkurang. Dengan jumlah sisa penghasilan keluarga yang hanya 35 persen, Anda memutuskan untuk pergi makan ke restoran fast food. Sekali makan menghabiskan sepuluh ribu rupiah. &#8220;Ah&#8230; enggak ada masalah,&#8221; begitu pikir Anda. Toh cuma sepuluh ribu ini. Setelah mengeluarkan jumlah uang yang cukup besar untuk membayar cicilan rumah, menabung buat anak, dan membayar premi asuransi, apa bedanya keluar uang sepuluh ribu untuk makan di restoran? Toh itu cuma &#8220;uang receh&#8221; kata Anda. BEDANYA BANYAK SEKALI! Betul. Kalau Anda keluar uang sepuluh ribu rupiah setiap hari untuk makan di restoran, atau beli cokelat, bahkan beli majalah atau apa pun, maka dalam duapuluh tahun saja Anda akan keluar uang Rp 206 juta! Itu dengan asumsi bahwa setiap tahun harga-harga naik sebesar 10 persen per tahun. Bayangkan, itu adalah jumlah &#8220;uang receh&#8221; yang Anda keluarkan setiap hari. Karena itu, saran saya kali ini adalah: jangan meremehkan pengeluaran-pengeluaran kecil yang Anda lakukan setiap hari, sekecil apa pun. Tetap kendalikan pengeluaran dalam keluarga Anda. Kalau Anda mencicil rumah, mobil, atau menabung secara rutin untuk anak Anda setiap bulan, Anda tentunya tidak mengontrol pengeluaran tersebut setiap hari. Tapi untuk pengeluaran-pengeluaran lainnya, maka biasanya Anda lakukan setiap hari. Karena itu, tidak ada salahnya jika pengontrolan terhadap pengeluaran-pengeluaran kecil itu juga dilakukan setiap hari. Saya tidak menyarankan Anda untuk berhenti makan di restoran. Saya juga tidak menyarankan Anda untuk tidak membeli majalah, beli cokelat atau<a href="http://www.yandics.biz/2011/11/jangan-anggap-remeh-uang-receh/"> <br /><br /> (Read More...)</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Safir Senduk</p>
<p>Dikutip dari Tabloid NOVA No. 652/XIII</p>
<p>Kalau saya anggap bahwa sebagian besar dari Anda pada saat ini masih<br />
mencicil rumah, maka sangat mungkin sekali bahwa cicilan rumah yang<span id="more-146"></span> Anda<br />
bayar menghabiskan sekitar 30 persen dari penghasilan keluarga Anda.<br />
Bila Anda membaca tulisan di NOVA beberapa nomor yang lalu bahwa Anda<br />
sebaiknya menabung sebelum membayar biaya hidup Anda, maka sangat<br />
mungkin pula Anda sekarang mulai melakukannya. Apa yang Anda tabung?<br />
Mungkin saja untuk pendidikan anak Anda kelak. Apakah mungkin Anda<br />
menabung sekitar 15 persen dari penghasilan Anda untuk pendidikan anak<br />
Anda kelak? Ya, sangat mungkin sekali.<br />
Apa lagi pengeluaran yang mungkin ada? Ah, ya. Sangat mungkin sekali Anda<br />
juga membayar premi asuransi. Entah itu asuransi jiwa, kesehatan, atau<br />
kerugian (untuk rumah dan mobil Anda). Bisa saja Anda menghabiskan sekitar<br />
20 persen dari penghasilan Anda untuk membayar asuransi-asuransi itu.</p>
<p>CUMA &#8220;UANG RECEH&#8221;?<br />
Sekarang mari kita berhitung. Dengan perkiraan kondisi seperti di atas, maka<br />
total pengeluaran Anda kemungkinan akan seperti di bawah ini.</p>
<p>UANG MASUK<br />
Penghasilan : 100 persen</p>
<p>UANG KELUAR<br />
Cicilan Hutang : 30 persen<br />
Tabungan Rutin : 15 persen<br />
Premi Asuransi : 20 persen<br />
Total : 65 persen dari penghasilan</p>
<p>Ini berarti, sebelum Anda sempat belanja kebutuhan hidup sehari-hari, atau<br />
sepasang sepatu atau pakaian, atau biaya transportasi sehari-hari, dan<br />
sebelum Anda membayar kebutuhan rekreasi, sekitar 65 persen dari<br />
penghasilan Anda sudah berkurang.<br />
Dengan jumlah sisa penghasilan keluarga yang hanya 35 persen, Anda<br />
memutuskan untuk pergi makan ke restoran fast food. Sekali makan<br />
menghabiskan sepuluh ribu rupiah. &#8220;Ah&#8230; enggak ada masalah,&#8221; begitu pikir<br />
Anda. Toh cuma sepuluh ribu ini.<br />
Setelah mengeluarkan jumlah uang yang cukup besar untuk membayar cicilan<br />
rumah, menabung buat anak, dan membayar premi asuransi, apa bedanya<br />
keluar uang sepuluh ribu untuk makan di restoran? Toh itu cuma &#8220;uang receh&#8221;<br />
kata Anda.</p>
<p>BEDANYA BANYAK SEKALI!<br />
Betul. Kalau Anda keluar uang sepuluh ribu rupiah setiap hari untuk makan di<br />
restoran, atau beli cokelat, bahkan beli majalah atau apa pun, maka dalam<br />
duapuluh tahun saja Anda akan keluar uang Rp 206 juta! Itu dengan asumsi<br />
bahwa setiap tahun harga-harga naik sebesar 10 persen per tahun.<br />
Bayangkan, itu adalah jumlah &#8220;uang receh&#8221; yang Anda keluarkan setiap hari.<br />
Karena itu, saran saya kali ini adalah: jangan meremehkan pengeluaran-pengeluaran kecil yang Anda lakukan setiap hari, sekecil apa pun. Tetap kendalikan pengeluaran dalam keluarga Anda. Kalau Anda mencicil rumah,<br />
mobil, atau menabung secara rutin untuk anak Anda setiap bulan, Anda<br />
tentunya tidak mengontrol pengeluaran tersebut setiap hari.<br />
Tapi untuk pengeluaran-pengeluaran lainnya, maka biasanya Anda lakukan<br />
setiap hari. Karena itu, tidak ada salahnya jika pengontrolan terhadap<br />
pengeluaran-pengeluaran kecil itu juga dilakukan setiap hari.<br />
Saya tidak menyarankan Anda untuk berhenti makan di restoran. Saya juga<br />
tidak menyarankan Anda untuk tidak membeli majalah, beli cokelat atau apa<br />
pun. Yang saya sarankan untuk Anda adalah agar Anda mengendalikan<br />
pengeluaran-pengeluaran kecil Anda. Karena bila Anda tidak mengendalikannya, maka Anda sendirilah yang akan rugi karena Anda akan<br />
mengeluarkan uang terlalu banyak untuk hal-hal yang belum tentu penting.<br />
Nah, setiap kali Anda datang ke supermarket, restoran, toko baju, atau apa<br />
pun itu, tanyakan kepada diri Anda pertanyaan sebagai berikut: apakah<br />
pengeluaran yang saya lakukan ini akan membantu saya mencapai tujuan-tujuan keuangan saya?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yandics.biz/2011/11/jangan-anggap-remeh-uang-receh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>CARA BELAJAR MENABUNG</title>
		<link>http://www.yandics.biz/2011/11/cara-belajar-menabung/#utm_source=feed&#038;utm_medium=feed&#038;utm_campaign=feed?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=cara-belajar-menabung</link>
		<comments>http://www.yandics.biz/2011/11/cara-belajar-menabung/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Nov 2011 07:12:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yandics</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://www.yandics.biz/?p=144</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Safir Senduk Dikutip dari Sindo, 24 Februari 2008 Pak Safir, saya boleh minta minta masukannya. Perkenalkan nama saya Nugroho, 35 tahun. Penghasilan sebulan Rp 4.000.000. Begini, saya mau ambil kredit Rp 25.000.000 dengan angsuran 687.500 untuk 60 bulan. (Bunga 13% pa = Rp 271.000,00) Dari kredit tersebut saya depositokan di sebuah koperasi, dan saya mendapat Rp 300.000,00 per bulannya. Maksud saya dengan demikian saya berusaha &#8220;nabung maksa&#8221; biar di bulan ke 60 saya punya tabungan Rp 25.000.000,00. Apakah langkah saya tepat? Atau ndak usah ambil kredit itu? Terima kasih banyak. Nugroho – Semarang Jawaban: Mas Nugroho, Banyak cara yang bisa dilakukan oleh setiap orang berupaya untuk bisa menabung. Salah satu caranya adalah yang seperti Anda lakukan saat ini. Saya rasa tidak masalah dengan langkah yang saat ini Anda tempuh. Karena menurut perkiraan saya, Anda adalah orang yang sulit untuk menabung, dan dengan cara ini mau tidak mau Anda jadi bisa menyisihkan sebagian penghasilan untuk ditabung. Bukan gitu, mas? Kenapa saya bilang langkah yang Anda ambil tepat? Karena saya melihat 2 hal yang perlu diperhatikan. Pertama, membiasakan diri Anda menabung adalah hal yang sangat bagus. Dan kedua, hasil investasi dari dana yang Anda tanamkan dalam bentuk deposito di koperasi nilainya masih lebih besar dari besaran bunga kredit yang dikenakan. Tapi saran saya pastikan lagi, bahwa hasil yang diberikan oleh koperasi tersebut konsisten dengan nilai yang sama setiap bulannya. Karena kalau sampai hasilnya di bawah bunga kredit, Anda akan kehilangan nilai investasi itu sendiri. Yaitu mendapatkan untung dari selisih antara bunga kredit dan bunga hasil investasti di koperasi. Mas, kalau masa 60 bulan itu sudah berlalu, saya sarankan Anda untuk tetap melakukan investasi dengan nilai yang sama tapi dengan sarana investasi yang lain. Karena saya yakin, rutinitas Anda untuk menyisihkan dana dalam jumlah yang pasti setiap bulannya sudah terbentuk menjadi kebiasaan dan sayang sekali kan kalau hal itu hilang begitu saja. Kemana Anda sebaiknya investasi? Saya sih lebih sarankan Anda untuk melakukan investasi dalam bentuk reksadana atau bisa juga ke obligasi ritel yang dikeluarkan oleh pemerintah (ORI). Dengan sarana-sarana investasi tersebut, Anda akan mendapatkan hasil investasi yang lebih optimal lagi dengan risiko yang lebih terukur. Selamat berinvestasi. Salam. Safir Senduk Perencana Keuangan]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Safir Senduk<br />
Dikutip dari Sindo, 24 Februari 2008</p>
<p>Pak Safir, saya boleh minta minta masukannya. Perkenalkan nama saya Nugroho, 35 tahun. Penghasilan sebulan Rp 4.000.000. Begini, saya mau ambil<span id="more-144"></span> kredit Rp 25.000.000 dengan angsuran 687.500 untuk 60 bulan. (Bunga 13% pa = Rp 271.000,00) Dari kredit tersebut saya depositokan di sebuah koperasi, dan saya mendapat Rp 300.000,00 per bulannya. Maksud saya dengan demikian saya berusaha &#8220;nabung maksa&#8221; biar di bulan ke 60 saya punya tabungan Rp 25.000.000,00. Apakah langkah saya tepat? Atau ndak usah ambil kredit itu? Terima kasih banyak.</p>
<p>Nugroho – Semarang</p>
<p>Jawaban:<br />
Mas Nugroho,<br />
Banyak cara yang bisa dilakukan oleh setiap orang berupaya untuk bisa menabung. Salah satu caranya adalah yang seperti Anda lakukan saat ini. Saya rasa tidak masalah dengan langkah yang saat ini Anda tempuh. Karena menurut perkiraan saya, Anda adalah orang yang sulit untuk menabung, dan dengan cara ini mau tidak mau Anda jadi bisa menyisihkan sebagian penghasilan untuk ditabung. Bukan gitu, mas?<br />
Kenapa saya bilang langkah yang Anda ambil tepat? Karena saya melihat 2 hal yang perlu diperhatikan. Pertama, membiasakan diri Anda menabung adalah hal yang sangat bagus. Dan kedua, hasil investasi dari dana yang Anda tanamkan dalam bentuk deposito di koperasi nilainya masih lebih besar dari besaran bunga kredit yang dikenakan. Tapi saran saya pastikan lagi, bahwa hasil yang diberikan oleh koperasi tersebut konsisten dengan nilai yang sama setiap bulannya. Karena kalau sampai hasilnya di bawah bunga kredit, Anda akan kehilangan nilai investasi itu sendiri. Yaitu mendapatkan untung dari selisih antara bunga kredit dan bunga hasil investasti di koperasi.<br />
Mas, kalau masa 60 bulan itu sudah berlalu, saya sarankan Anda untuk tetap<br />
melakukan investasi dengan nilai yang sama tapi dengan sarana investasi yang lain. Karena saya yakin, rutinitas Anda untuk menyisihkan dana dalam jumlah yang pasti setiap bulannya sudah terbentuk menjadi kebiasaan dan sayang sekali kan kalau hal itu hilang begitu saja. Kemana Anda sebaiknya investasi? Saya sih lebih sarankan Anda untuk melakukan investasi dalam bentuk reksadana atau bisa juga ke obligasi ritel yang dikeluarkan oleh pemerintah (ORI). Dengan sarana-sarana investasi tersebut, Anda akan mendapatkan hasil investasi yang lebih optimal lagi dengan risiko yang lebih terukur. Selamat berinvestasi.</p>
<p>Salam.<br />
Safir Senduk<br />
Perencana Keuangan</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yandics.biz/2011/11/cara-belajar-menabung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bahagia seperti Anda Ingin Menjadi</title>
		<link>http://www.yandics.biz/2011/11/bahagia-seperti-anda-ingin-menjadi/#utm_source=feed&#038;utm_medium=feed&#038;utm_campaign=feed?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=bahagia-seperti-anda-ingin-menjadi</link>
		<comments>http://www.yandics.biz/2011/11/bahagia-seperti-anda-ingin-menjadi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Nov 2011 06:42:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yandics</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://www.yandics.biz/?p=131</guid>
		<description><![CDATA[Hampir semua orang telah mendengar hit single &#8216;Jangan Khawatir, Be Happy&#8217; oleh Bobby McFerrin. Lagu ini memiliki cara yang sangat menarik untuk menyampaikan pesannya menjadi bahagia untuk semua orang. Pesan sederhana Bobby Mcferiin yang pasti membuat banyak orang dengan memberitahu mereka untuk tidak khawatir. Hidup kehidupan yang bahagia, tangguh dan optimis yang indah, dan juga baik untuk kesehatan Anda. Menjadi bahagia sebenarnya melindungi Anda dari tekanan hidup. Stres terkait dengan penyebab utama kematian seperti penyakit jantung, kanker dan stroke. Salah satu hal baik yang pernah dikatakan adalah &#8211; &#8216;Satu-satunya hal dalam hidup yang akan selalu tetap sama adalah perubahan&#8217;, dan dalam hidup kita, kita memiliki kekuatan untuk membuat perubahan yang diperlukan jika kita ingin. Bahkan jika kita menemukan diri kita dalam situasi yang tak tertahankan kita selalu dapat menemukan penghiburan dalam pengetahuan bahwa hal itu juga akan berubah. Jaringan sosial atau hubungan yang penting untuk kebahagiaan. Orang-orang yang berbeda, menerima orang-orang untuk siapa atau apa mereka, menghindari bentrokan, argumen konstan, dan melepaskan semua jenis kebencian. Jika argumen tampaknya tidak dapat dihindari masih mencoba dan membuat upaya untuk memahami situasi dan Anda mungkin hanya bergaul dengan baik dengan Kebahagiaan sebenarnya ditemukan di setiap orang, meningkat adalah cara untuk membuat hidup lebih indah dan juga lebih sehat. Untuk menjadi bahagia adalah relatif mudah, hanya memutuskan untuk menjadi orang yang bahagia. Abraham Lincoln mengamati bahwa sebagian besar orang untuk sebagian besar waktu dapat memilih bagaimana bahagia atau stres, bagaimana santai atau bermasalah, bagaimana terang atau membosankan pandangan mereka untuk menjadi. Pilihannya adalah benar-benar sederhana, memilih untuk menjadi bahagia. Ada beberapa cara dengan mana Anda dapat melakukan hal ini. Menjadi bersyukur adalah sikap yang baik. Kami memiliki begitu banyak yang harus disyukuri. Terima sopir taksi untuk membawa Anda pulang dengan selamat, terima masak untuk makan malam yang indah dan berterima kasih kepada orang yang membersihkan jendela Anda. Juga terima kasih tukang pos untuk membawa Anda mail Anda, terima polisi itu untuk membuat tempat Anda aman dan berterima kasih kepada Tuhan karena hidup. Berita adalah stres. Dapatkan kurang dari itu. Beberapa orang tidak bisa memulai hari mereka tanpa dosis harian mereka berita. Cobalah dan berpikir tentang hal itu, 99% dari berita yang kita dengar atau baca adalah berita buruk. Memulai hari dengan berita buruk tampaknya tidak menjadi hal yang masuk akal untuk dilakukan. Koneksi agama juga dianjurkan. Menjadi bagian dari sebuah kelompok keagamaan dengan bernyanyi nya, sakramen, nyanyian, doa dan meditasi meningkatkan perdamaian batin. Kelola waktu Anda. Waktu sangat berharga dan terlalu penting untuk limbah. Manajemen waktu dapat dilihat sebagai daftar aturan yang melibatkan penjadwalan, pengaturan tujuan, perencanaan, membuat daftar hal untuk dilakukan dan memprioritaskan. Ini adalah dasar inti dari manajemen waktu yang harus dipahami untuk mengembangkan keterampilan manajemen waktu yang efisien pribadi. Keterampilan dasar<a href="http://www.yandics.biz/2011/11/bahagia-seperti-anda-ingin-menjadi/"> <br /><br /> (Read More...)</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-135" title="smile image" src="http://www.yandics.biz/wp-content/uploads/2011/11/smile1-150x150.jpg" alt="" width="105" height="105" />Hampir semua<span id="more-131"></span> orang telah mendengar hit single &#8216;Jangan Khawatir, Be Happy&#8217; oleh Bobby McFerrin. Lagu ini memiliki cara yang sangat menarik untuk menyampaikan pesannya menjadi bahagia untuk semua orang. Pesan sederhana Bobby Mcferiin yang pasti membuat banyak orang dengan memberitahu mereka untuk tidak khawatir.<a href="http://www.yandics.biz/wp-content/uploads/2011/11/smile1.jpg#utm_source=feed&amp;utm_medium=feed&amp;utm_campaign=feed"><img title="More..." src="http://www.yandics.biz/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" alt="" /></a></p>
<p>Hidup kehidupan yang bahagia, tangguh dan optimis yang indah, dan juga baik untuk kesehatan Anda. Menjadi bahagia sebenarnya melindungi Anda dari tekanan hidup. Stres terkait dengan penyebab utama kematian seperti penyakit jantung, kanker dan stroke.</p>
<p>Salah satu hal baik yang pernah dikatakan adalah &#8211; &#8216;Satu-satunya hal dalam hidup yang akan selalu tetap sama adalah perubahan&#8217;, dan dalam hidup kita, kita memiliki kekuatan untuk membuat perubahan yang diperlukan jika kita ingin. Bahkan jika kita menemukan diri kita dalam situasi yang tak tertahankan kita selalu dapat menemukan penghiburan dalam pengetahuan bahwa hal itu juga akan berubah.</p>
<p>Jaringan sosial atau hubungan yang penting untuk kebahagiaan. Orang-orang yang berbeda, menerima orang-orang untuk siapa atau apa mereka, menghindari bentrokan, argumen konstan, dan melepaskan semua jenis kebencian. Jika argumen tampaknya tidak dapat dihindari masih mencoba dan membuat upaya untuk memahami situasi dan Anda mungkin hanya bergaul dengan baik dengan</p>
<p>Kebahagiaan sebenarnya ditemukan di setiap orang, meningkat adalah cara untuk membuat hidup lebih indah dan juga lebih sehat.</p>
<p>Untuk menjadi bahagia adalah relatif mudah, hanya memutuskan untuk menjadi orang yang bahagia. Abraham Lincoln mengamati bahwa sebagian besar orang untuk sebagian besar waktu dapat memilih bagaimana bahagia atau stres, bagaimana santai atau bermasalah, bagaimana terang atau membosankan pandangan mereka untuk menjadi. Pilihannya adalah benar-benar sederhana, memilih untuk menjadi bahagia.</p>
<p>Ada beberapa cara dengan mana Anda dapat melakukan hal ini.</p>
<p>Menjadi bersyukur adalah sikap yang baik. Kami memiliki begitu banyak yang harus disyukuri. Terima sopir taksi untuk membawa Anda pulang dengan selamat, terima masak untuk makan malam yang indah dan berterima kasih kepada orang yang membersihkan jendela Anda. Juga terima kasih tukang pos untuk membawa Anda mail Anda, terima polisi itu untuk membuat tempat Anda aman dan berterima kasih kepada Tuhan karena hidup.</p>
<p>Berita adalah stres. Dapatkan kurang dari itu. Beberapa orang tidak bisa memulai hari mereka tanpa dosis harian mereka berita. Cobalah dan berpikir tentang hal itu, 99% dari berita yang kita dengar atau baca adalah berita buruk. Memulai hari dengan berita buruk tampaknya tidak menjadi hal yang masuk akal untuk dilakukan.</p>
<p>Koneksi agama juga dianjurkan. Menjadi bagian dari sebuah kelompok keagamaan dengan bernyanyi nya, sakramen, nyanyian, doa dan meditasi meningkatkan perdamaian batin.</p>
<p>Kelola waktu Anda. Waktu sangat berharga dan terlalu penting untuk limbah. Manajemen waktu dapat dilihat sebagai daftar aturan yang melibatkan penjadwalan, pengaturan tujuan, perencanaan, membuat daftar hal untuk dilakukan dan memprioritaskan. Ini adalah dasar inti dari manajemen waktu yang harus dipahami untuk mengembangkan keterampilan manajemen waktu yang efisien pribadi. Keterampilan dasar yang bisa diatur lebih lanjut untuk memasukkan poin-poin penting dari setiap keterampilan yang dapat memberikan Anda bahwa cadangan ekstra untuk membuat hasil yang Anda inginkan.</p>
<p>Tertawa dan tertawa terbahak-bahak sehari-hari. Mendengar lelucon yang bagus? Beritahu teman Anda atau keluarga tentang hal itu. Karena mereka juga bilang &#8211; &#8216;Tertawa adalah obat terbaik&#8217;.</p>
<p>Mengungkapkan perasaan Anda, kasih sayang, persahabatan dan semangat untuk orang di sekitar Anda. Mereka kemungkinan besar akan membalas tindakan Anda. Cobalah untuk tidak menyimpan amarah terpendam dari frustrasi, ini buruk bagi kesehatan Anda. Alih-alih menemukan cara untuk mengekspresikan mereka dengan cara yang tidak akan menyebabkan cedera yang lebih atau menyakiti siapa pun.</p>
<p>Bekerja keras membawa kepuasan pribadi yang luar biasa. Ini memberikan perasaan kompeten dalam menyelesaikan tugas kami. Keberhasilan diperlukan bagi kita semua, mereka memberi kita rasa nilai. Bekerja pada hal-hal yang Anda merasa layak waktu Anda.</p>
<p>Belajar adalah latihan menyenangkan. Mencoba dan belajar sesuatu yang baru setiap hari. Belajar juga membuat kita berkembang dan memperluas cakrawala kita. Dan juga bisa memberi kita lebih banyak kesempatan di masa depan.</p>
<p>Jalankan, joging, berjalan dan melakukan hal-hal lain yang tubuh Anda dibuat untuk. Merasa hidup.</p>
<p>Hindari pajanan terhadap unsur-unsur negatif seperti suara keras, racun dan tempat-tempat berbahaya.</p>
<p>Ini adalah hal sederhana yang dapat Anda lakukan setiap hari untuk menjadi bahagia.</p>
<p>Dan selalu ingat kutipan dari Abraham Lincoln, ia mengatakan bahwa, &#8220;Kebanyakan orang adalah tentang bahagia saat mereka membuat pikiran mereka untuk menjadi.&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yandics.biz/2011/11/bahagia-seperti-anda-ingin-menjadi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Blue Ocean Strategy</title>
		<link>http://www.yandics.biz/2011/11/blue-ocean-strategy/#utm_source=feed&#038;utm_medium=feed&#038;utm_campaign=feed?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=blue-ocean-strategy</link>
		<comments>http://www.yandics.biz/2011/11/blue-ocean-strategy/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Nov 2011 05:49:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yandics</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://www.yandics.biz/?p=128</guid>
		<description><![CDATA[January 3, 2009 — indraharjanto Secara singkat Blue Ocean Strategy bisa diartikan sebagai beda dari yang lain, unik atau memiliki nilai lebih (pendapat saya lho). Coba perhatikan betapa banyak usaha yang sejenis begitu menjamur dan hampir tidak ada bedanya antara satu dengan yang lain. Contohnya pedagang gorengan. Saat muncul begitu banyak pedagang gorengan, lama kelamaan yang timbul adalah persaingan harga, rebutan tempat jualan, dsb. Kondisi dimana banyak terdapat usaha yang sejenis dan tidak ada perbedaan yang unik ini disebut Red Ocean. Mengapa disebut Red Ocean, karena masing-masing pedagang atau pengusaha akan bersaing ketat bahkan saling membunuh sehingga membuat “merah” peta persaingan. Coba kita terapkan pola pikir Blue Ocean pada kasus pedagang gorengan tadi dengan membuat usaha gorengan ini jd unik. Misal; 1. Gorengan khusus ketela plus bumbu crispy (seperti Tela Krezz) 2. Gorengan khusus tahu isi. Isi tahunya beraneka ragam seperti daging, bakso, ayam, dsb 3. Gorengan Jamur Crispy. 4. Ikan Balita Goreng di Bogor, dll Intinya, usaha kita harus lain dari yang lain. Apabila kita bisa membuat usaha yang lain dari yang lain, dijamin deh walaupun letaknya di ujung jalan nan muacett…tapi pasti diburu orang ! Work smarter don’t work harder salam, Indra Harjanto.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>January 3, 2009 — indraharjanto<br />
Secara singkat Blue Ocean Strategy bisa diartikan sebagai beda dari yang lain, unik atau memiliki nilai lebih (pendapat saya lho).<br />
Coba perhatikan betapa banyak usaha<span id="more-128"></span> yang sejenis begitu menjamur dan hampir tidak ada bedanya antara satu dengan yang lain. Contohnya pedagang gorengan.<br />
Saat muncul begitu banyak pedagang gorengan, lama kelamaan yang timbul adalah persaingan harga, rebutan tempat jualan, dsb. Kondisi dimana banyak terdapat usaha yang sejenis dan tidak ada perbedaan yang unik ini disebut Red Ocean.<br />
Mengapa disebut Red Ocean, karena masing-masing pedagang atau pengusaha akan bersaing ketat bahkan saling membunuh sehingga membuat “merah” peta persaingan.</p>
<p>Coba kita terapkan pola pikir Blue Ocean pada kasus pedagang gorengan tadi dengan membuat usaha gorengan ini jd unik. Misal;<br />
1. Gorengan khusus ketela plus bumbu crispy (seperti Tela Krezz)<br />
2. Gorengan khusus tahu isi. Isi tahunya beraneka ragam seperti daging, bakso, ayam, dsb<br />
3. Gorengan Jamur Crispy.<br />
4. Ikan Balita Goreng di Bogor, dll</p>
<p>Intinya, usaha kita harus lain dari yang lain. Apabila kita bisa membuat usaha yang lain dari yang lain, dijamin deh walaupun letaknya di ujung jalan nan muacett…tapi pasti diburu orang !</p>
<p>Work smarter don’t work harder<br />
salam,<br />
Indra Harjanto.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yandics.biz/2011/11/blue-ocean-strategy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Dynamic page generated in 5.450 seconds. -->
<!-- Cached page generated by WP-Super-Cache on 2012-05-20 05:39:04 -->

